Blog

Moms yang sedang mengandung buah hatinya sering dilanda rasa kantuk? Nah ternyata nih moms rasa kantuk yang sering dialami oleh wanita hamil akan lebih terasa pada saat kehamilan baru menginjak trisemester pertama.

Pada dasarnya nih moms rasa kantuk tersebut terjadi karena adanya perubahan hormon yang terjadi pada awal kehamilan. Hormon progesterone yang diproduksi tubuh moms akan cenderung meningkat dan hal tersebut yang membuat munculnya rasa kantuk. Selain itu moms, pada awal kehamilam tubuh yang menghasilkan lebih banyak darah, kadar gula dan tekanan darah yang umumnya lebih rendah dari biasanya juga menjadi penyebab adanya rasa yang mudah lelah sehingga moms merasa mengantuk.

 Tak hanya itu moms, adanya perubahan emosional juga menjadi alasan dibalik rasa kantuk tersebut. Tapi moms rasa sering mengantuk ini akan menghilang pada saat trimester kedua, karena kondisi tubuh wanita hamil pada trimester kedua adalah yang paling fit di sepanjang jangka waktu kehamilan. Sehingga jika moms ingin melakukan perjalanan babymoon ada baiknya dilakukan pada waktu ini ya moms. Memasuki trimester ketiga rasa mudah lelah akan menyerang kembali moms, jadi moms harus bersiap. Hal itu dikarenakan perut sudah semakin membesar, sehingga untuk melakukan kegiatan sehari-hari pun akan memerlukan usaha tersendiri.

Terlebih lagi nih moms ketika kehamilan sudah menginjak usia yang matang maka moms mungkin akan mengalami gangguan tidur pada malam hari, entah itu disebabkan oleh kaki yang terasa kram, pinggang yang pegal, buang air kecil yang semakin sering, bahkan insomnia. Moms yang sedang mengandung buah hatinya terkadang juga bisa mengalami anemia loh moms, karena pada dasarnya tubuh memerlukan lebih banyak asupan untuk sang janin dan juga ibunya.

Jika asupan yang masuk ke dalam tubuh kurang maka moms dapat mengalami anemia dan tubuh akan terasa mudah lelah serta mengantuk. Untuk itu moms harus menjaga dan memenuhi asupan nutrisi saat kehamilan ya moms. Makan makanan bergizi seperti buah dan sayur menjadi penting, tak hanya itu moms juga harus mengimbanginya dengan olahraga ringan, seperti contohnya berjalan santai agar si bayi juga sehat nantinya.

Sebagai ibu, apalagi setelah melahirkan pasti akan ingin selalu berada dekat dengan si kecil. Insting alami orangtua adalah melindungi anaknya dari bahaya. Melindunginya bukan hanya saat mereka sudah bisa bermain, bahkan saat tidur pun orangtua masih ingin melindungi anaknya. Hal tersebut membuat orangtua akan mengajak anaknya untuk tidur satu ranjang dengannya. Selain melindungi, saat si bayi merasa lapar, ibu akan bisa dengan cepat memberikannya ASI atau menggendongnya untuk menenangkan. Namun, ternyata ada beberapa hal yang menjadi resiko bila orangtua tidur seranjang bersama bayi kecilnya.

SIDS

SIDS (sudden infant death syndrome) atau kematian mendadak pada bayi merupakan resiko pertama yang bisa terjadi bila tidur bersama orangtuanya di ranjang yang sempit. Tempat yang sempit akan membuat si kecil sulit bernapas sehingga meningkatkan resiko terjadinya SIDS. SIDS ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor khusus lainnya seperti bayi yang lahir premature, berat bayi lahir kurang dari 2,5 kg, dan usia bayi yang masih kurang dari 11 bulan.

Menimbulkan Bahaya Kesehatan Serius

Hal ini berlaku bila orangtua si kecil adalah seorang perokok. Tidur seranjang dengan si kecil tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, bisa membuat kandungan nikotin yang menempel di tubuh orangtua terhirup oleh si bayi dan akhirnya akan menimbulkan bahaya kesehatan yang serius di kemudian hari.

Kurang Mandiri saat Dewasa

Anak yang terbiasa tidur dengan orangtuanya sejak kecil dan tidak diajarkan untuk tidur mandiri juga akan menjadi pribadi yang lebih manja. Mereka akan terbiasa dengan keadaan selalu dekat dengan orangtuanya, sehingga saat dipisahkan atau tidak melihat wajah orangtuanya, mereka akan mudah menangis dan merengek. Hal tersebut tentu saja akan merepotkan orangtua bila sang anak selalu ingin menempel kemanapun orangtuanya pergi.

                Untuk melatih kemandirian si kecil, hal yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah mulai membiasakan mereka untuk tidur dalam boks bayi sejak masih bayi. Orangtua juga harus memperhatikan pemilihan boks bayi dan alat tidurnya agar mereka merasa aman, nyaman dan betah untuk tidur sendirian.

Bayi yang tidur tidak nyenyak dan terus menerus terbangun pada malam hari akan merepotkan orangtuanya, apalagi orangtua yang harus bekerja keesokan harinya dan harus bersiap-siap di pagi hari. Hal tersebut akan sangat merepotkan dan membuat kita mudah kelelahan karena kurang tidur. Selain itu, bayi juga bisa rewel sepanjang hari karena mereka merasa lelah akibat kekurangan tidur dimalam hari. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa bayi sering terbangun dan sulit tidur dimalam hari.

Merasa Lapar

Bayi yang terbangun dimalam hari bisa jadi merasa lapar. Bayi biasanya akan minum susu atau makan (saat sudah memasuki masa MPASI) setiap 2 – 6 jam sekali. Bila mereka belum merasa kenyang, mereka akan mudah terbangun karena lapar sehingga akan menangis dimalam hari. Usahakan untuk membuatnya merasa kenyang sebelum tidur agar tidak mengganggu waktu istirahat anda dan juga waktu tidur malamnya.

Terlalu Lelah Bermain

Bayi biasanya mudah penasaran dengan hal-hal baru. Mereka biasanya akan fokus mencari tahu dan bermain dengan dunianya sendiri. Setelah merasa lelah, mereka belum tentu akan langsung tertidur. Mereka bisa saja menjadi rewel karena merasa terlalu lelah. Untuk mengatasinya, orangtua bisa memberikan pijatan lembut atau usapan lembut pada tubuh si kecil agar ia merasa nyaman dan lebih nyenyak untuk tidur.

Tumbuh Gigi

Saat tumbuh gigi, gusi si bayi bukan hanya terasa gatal sehingga mereka biasanya menggigit-gigit mainannya. Mereka juga bisa merasakan sakit sehingga akan menjadi lebih rewel. Rasa sakit saat tumbuh gigi bisa semakin intens dimalam hari, sehingga mereka akan mudah terbangun bahkan menangis.

Merasakan Sakit

Bayi memiliki daya tahan tubuh yang belum sempurna seperti orang dewasa. Mereka lebih rentan terkena penyakit seperti demam, sakit perut, asam lambung, kedinginan, dan batuk. Hal tersebut biasanya membuat mereka gelisah dan mudah terbangun dimalam hari.

Bila orangtua merasa bayinya kurang sehat, orangtua bisa memeriksakannya ke dokter untuk antisipasi penyakit yang lebih parah. Bayi yang baru lahir atau masih berusia dibawah 5 tahun, sulit memberitahu anda kode atau tanda-tanda bahwa ia merasakan sakit, maka sebagai orangtua harus lebih peka dengan tanda-tandanya.

Sebagian besar atau hampir semua orangtua baru akan mengalami kekurangan tidur pada masa awal kelahiran buah hatinya. Bila hal tersebut terus menerus terjadi, akan menjadi penyebab utama orangtua mudah sakit karena kelelahan dan kurang tidur. Untuk mengatasi hal tersebut, kita bisa mulai membiasakan jadwal atau waktu tidur untuk si bayi sejak kecil agar orangtua juga memiliki waktu istirahat yang cukup. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mendisiplinkan waktu tidur si kecil.

  • Amati dan kenali waktu-waktu tidur si kecil. Semakin bertambah usianya, maka  watu tidurnya akan semakin berkurang. Umumnya bayi 0-1 bulan memiliki waktu tidur paling panjang yaitu 18 jam. Bayi 2-12 bulan memiliki waktu tidur yang lebih singkat yaitu 12-14 jam.
  • Bayi sudah mulai bisa diajarkan pola tidur sejak usia 3 bulan. Caranya adalah dengan membagi jam-jam tidurnya. Pembagian waktu tidur bisa diterapkan sebagai berikut:
        • Tidur setelah mandi pagi pukul 09.00 – 10.00.
        • Tidur setelah jam makan siang pukul 13.00 – 14.00.
        • Tidur saat petang sebelum pukul 17.30.
        • Tidur malam pukul 20.00 atau 21.00 agar pukul 05.00 atau 06.00 pagi si kecil sudah terbangun.
        • Sebelum tidur, biasakan untuk membuat kondisi ruangan menjadi lebih redup, hangat, dan nyaman agar si kecil lebih cepat tertidur.
    • Biasakan si kecil untuk tidur di jam-jam yang sudah ditentukan. Cara yang digunakan bisa dengan menggendong sambil mengayunkannya, menyanyikan lagu tidur, dan membacakan cerita pengantar tidur.
    • Diluar jam tidur, ajaklah si kecil bermain dan berinteraksi agar mereka tidak kehilangan waktu bermain. Selain itu, saat mereka lelah bermain mereka akan lebih cepat untuk terlelap.
    • Berikan ASI atau susu yang sesuai dengan bayi agar mereka lebih rileks saat tidur.
    • Bila saat malam hari si kecil tiba-tiba terbangun, jangan mengajaknya bermain. Tepuk perlahan atau usap tubuhnya dengan lembut agar si kecil kembali tertidur dan merasa nyaman.
    • Mencontohkan pada si kecil juga bisa menjadi salah satu hal yang harus dipertimbangkan. Contohnya orangtua bisa berbaring didebelah anaknya sehingga mereka merasa terlindungi dan bisa segera tidur.

Orangtua juga disarankan untuk memiliki waktu tidur siang yang sama dengan anaknya agar dapat merecharge tenaga dan bisa mengurus si kecil dengan lebih bersemangat. Dengan mempertimbangkan pola tidur, orangtua juga bisa mengatur kegiatannya lebih baik untuk kesehariannya.

Membuat si kecil tertidur dengan cepat menjadi tantangan tersendiri bagi kebanyakan orangtua. Kebanyakan orangtua mengajak bayinya untuk tidur di tempat tidur mereka bersama, namun ada juga yang mulai membiasakan bayinya untuk tidur mandiri dalam boks bayi. Membiasakan si kecil untuk tidur sendiri dalam boks bayi tentu saja tidak mudah. Mereka justru sering menolak bahkan menangis saat diletakkan didalam boks. Berikut ini adalah alasan mengapa bayi mudah menangis saat ditidurkan didalam boks bayi.

  • Merasa cemas karena terpisah dari orangtua

Bayi terutama saat memasuki umur 6-7 bulan sudah mulai bisa membedakan wajah. Ketika orangtua meninggalkan si kecil dalam boks, si kecil sebenarnya menyadari bahwa orangtuanya akan pergi. Si kecil sudah bisa merasakan cemas, sehingga mereka menangis dan ingin selalu berasa disebelah orangtuanya agar merasa tenang.

  • Refleks menangis karena merasa tidak aman

Sejak lahir, bayi lebih banyak tidur dalam gendongan orangtuanya, sehingga saat diletakkan dalam boks, mereka akan refleks merasa takut dan mulai menangis. Mereka menangis karena merasa tidak aman terlepas dari gendongan orangtuanya.

  • Bayi Mengalami Refluks Asam

Saat mengalami refluks asam atau kolik, seseorang akan cendrung tidur kearah samping (kiri atau kanan), karena saat telentang, sakit akan mulai muncul kembali. Hal ini juga bisa menjadi salah satu alasan kenapa bayi menangis saat mulai ditidurkan dalam boks karena posisi tidur mereka di boks adalah telentang. Untuk mengatasi permaslaahan tersebut, orangtua bisa menerapkan hal ini agar melatih si kecil untuk terbiasa tidur dalam boks bayi secara mandiri.

  • Temani Bayi Hingga Tertidur

Bayi juga memiliki insting alami untuk selalu berada dekat dengan orangtuanya. Saat ingin membiasakan bayi tidur dalam box bayinya, jangan langsung meninggalkan bayi sendirian setelah orangtua menaruhnya dalam box. Tunggui mereka hingga tertidur dan berikan waktu kurang lebih 15 menit setelah tertidur sebelum benar-benar meninggalkannya sendiri di box. Orangtua juga bisa meninggalkan pakaian lama nya didekat box si bayi agar mereka dapat mencium aroma orangtuanya di sekelilingnya. Tetapi tetap saja, meninggalkan bayi dalam box dalam waktu yang lama tidak dianjurkan karena bayi butuh pengawasan yang lebih ekstra.

  • Gunakan Box Bayi untuk Mereka Tidur di Malam Hari

Jika orangtua menginginkan si bayi untuk terbasa tidur mandiri, ajarkan mereka untuk tidur sendiri di box terutama saat malam hari. Bayi cenderung tidak terlalu rewel saat malam hari, dan hal tersebut bisa mendukung penyesuaiannya lebih cepat.

  • Berikan Sedikit Waktu untuk si Bayi Mengubah Kebiasaannya

Tidak ada yang bisa berubah dalam waktu singkat. Begitupula dengan bayi, mereka perlu menyesuaikan keadaan baru tersebut. Ada bayi yang terbiasa tidur mandiri hanya dalam waktu beberapa hari, dan ada juga yang berminggu-minggu.

0
Need Help? Chat with us