Blog

Image result for cake

Ketika hamil, mommy biasanya akan mengalami fase yang disebut ‘ngidam’, dan tak jarang biasanya mommy akan menginginkan makanan yang terasa kecut hingga manis. Salah satu makanan manis yang sangat menggiurkan untuk mommy adalah cake. Ada cheesecake, green tea, red velvet, dan berbagai macam rasa lezat lainnya. Namun apakah mommy tahu kalau cake itu berbahaya untuk mommy dan si kecil?

Cake dikatakan berbahaya untuk mommy dan baby karena cake mengandung beberapa bahan yang berlebihan, contohnya gula. Gula yang berlebihan akan membahayakan mommy dan baby karena dapat menyebabkan obesitas bahkan diabetes. Selain gula, kandungan krim yang digunakan dalam cake juga perlu diwaspadai loh, moms… karena kebanyakan krim kue dibuat dari telur mentah yang mengandung bakteri Salmonella, toxoplasma, E. coli, dan bakteri berbahaya lainnya. 

Beberapa jenis kue yang umum dijual di pasaran, ada juga yang mengandung alkohol. Alkohol yang digunakan biasanya sejenis rum dan dicampurkan dalam adonan kue sehingga menghasilkan cita rasa yang berbeda. Bila mommy memakan kue yang sudah dicampurkan alkohol, bukan tidak mungkin kalau mommy akan menyakiti si kecil loh… Alkohol bisa membuat tubuh bayi di dalam kandungan mommy menjadi panas sehingga rentan terkena infeksi. Alkohol yang dikonsumsi oleh ibu hamil juga berbahaya untuk perkembangan organ tubuh bayi didalam kandungan.

Jadi, hati-hati ya moms dalam mengkonsumsi kue. Pastikan kandungan dalam kue aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil sehingga tidak akan membahayakan untuk kesehatan mommy dan si kecil hingga persalinan nanti.

Kebanyakan ibu biasanya percaya bahwa satu-satunya cara membentuk bonding yang paling kuat dengan si kecil adalah dengan cara menyusui. Sebenarnya, membentuk bonding bisa dilakukan dengan banyak cara. Mama bisa mencoba beberapa cara sebagai berikut.

  • Lakukan skinship sesering mungkin

Skinship ini sehari-hari sangat sering dilakukan oleh mama, terutama saat memandikan si kecil. Selain memandikan, menyusui juga merupakan salah satu bentuk skinship antara mama dan si kecil agar membentuk bonding yang lebih kuat. Lakukan hal-hal lain seperti mengelus tangan, kaki, atau kepala si kecil agar kegiatan skinship ini dapat membentuk bonding yang baik antara mama dan si kecil kesayangan.

  • Gendong di kecil

Bila mama lebih suka menaruh si kecil diatas stroller, maka mama harus mulai mengubah kebiasaan tersebut. Jika mama ingin membentuk bonding yang kuat, maka mama setidaknya harus lebih sering menggendong si kecil daripada meletakkannya di atas stroller.

  • Pijat si kecil setelah lelah bermain

Memijat, mengusap, dan mendekap menimbulkan kehangatan sehingga membuat bayi merasa nyaman. Setelah mereka lelah bermain, maka mama tidak ada salahnya untuk memijat lembut tubuh si kecil agar mereka merasa nyaman, sehingga bonding antara mama dan si kecil juga sekaligus terbentuk lewat sentuhan kulit saat memijat.

  • Sering-seringlah berinteraksi

Sering berinteraksi dengan si kecil dapat membantunya kelak untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan juga keterampilan sosialnya kelak dalam hal berinteraksi. Sering mengajaknya berbicara akan membantu mama menguatkan bonding, karena saat mengajak si kecil berbicara, mama akan berperan sebagai teman baiknya, bahkan mereka bisa menirukan apa yang mama katakan. Semakin sering berinteraksi, maka bonding yang tercipta akan semakin kuat.

  • Nikmati rutinitas bersama

Saat mama menjalani rutinitas sehari-hari, jangan sampai mama melupakan si kecil. Ada baiknya mama menjalankan rutinitas tersebut bersama dengan si kecil sambil menyanyikan sebuah lagu tidur untuknya, atau mengajaknya berbicara.

  • Abadikan moment bersama

Saat mengabadikan moment, mama bisa memakaikan si kecil kostum unik dan bermain dengannya. Sambil mengabadikan moment, tentu saja mama akan berinteraksi lebih banyak dengan si kecil sehingga bonding yang terbentuk akan semakin kuat.

  • Jangan lupa libatkan ayah

Selain meningkatkan dan menguatkan bonding antara si kecil dan mama, jangan lupa untuk melakukan aktivitas bersama dengan ayah, seperti bermain diluar rumah atau berlibur bersama di waktu luang. Bonding yang erat antara si kecil dan kedua orang tua nya tentu saja akan berperan penting untuk perkembangannya di masa yang akan datang. Lewat keluarga, mereka akan mengetahui cara berinteraksi dan bersosialisasi dengan sesama dengan baik.

Sama halnya dengan waktu tidur, matras untuk si kecil juga perlu diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap kualitas tidur, proses tumbuh dan juga perkembangan si kecil. Berikut tips dalam memilih matras yang baik untuk bayi ya Moms:

 

Pilih matras berukuran sama dengan ranjang atau boks bayi 

Matras dengan ukuran yang sesuai dengan boks bayi akan memberikan kenyamanan dan dapat mengurangi resiko terjadinya cedera pada bayi seperti misalnya terjepit. 

Pilih matras dengan kepadatan dan desain yang memang ditunjukkan untuk bayi

Banyak orang tua yang membelikan bahan yang empuk dan lembut bagi si kecil, namun matras dengan bahan yang terlalu empuk dan lembut dapat meningkatkan resiko SIDS atau kematian mendadak pada bayi, karena wajah bayi mungkin saja terbenam dalam matras. Matras yang didesain untuk bayi pada umumnya memiliki ketebalan sekitar 17-15 cm, dan agak keras guna mencegah SIDS sekaligus menopang tulang punggung bayi.  

Pilih matras dengan kemampuan tahan air 

Matras yang tahan air akan lebih awet dibandingkan yang tidak, selain itu hal ini juga dapat menjaga kenyamanan bayi. Moms dapat menambahkan sprei ataupun perlak.

Perhatikan kandungan bahan dan zat yang digunakan pada matras

Bayi menghabiskan waktu tidur yang cukup panjang, dan selama waktu tidur tersebut tidak menutup kemungkinan zat kimia yang ada dalam matras menempel pada tubuh bayi. Sebaiknya pilihlah matras yang sudah terverifikasi keamanannya terkait bahan kimia yang terkandung dalam bahan yang digunakan dalam membuat matras. 

Belilah matras baru 

Sebaiknya belilah matras dan keranjang bayi yang baru. Hal tersebut untuk mencegah adanya zat berbahaya yang mungkin menempel akibat cat yang sudah lama dan mencegah adanya bakteri yang berkembang di permukaan matras. Matras baru juga sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghilangkan zat kimia yang mungkin tersisa.

Bayi menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tidur karena tidur merupakan salah satu aktivitas yang mendukung tumbuh kembangnya di masa bayi. Bayi dengan usia dibawah 1 tahun membutuhkan waktu tidur lebih dari 15 jam per hari, sedangkan untuk bayi diatas 1 tahun, 13 jam sudah memenuhi waktu tidur cukupnya. 

 

Sebagai orang tua, sangat penting untuk mengetahui seberapa banyak waktu tidur yang dibutuhkan oleh si kecil. Orang tua juga harus jeli saat memperhatikan si kecil apakah mereka sudah memiliki waktu tidur yang cukup atau belum. Berikut ini adalah beberapa tanda bayi yang belum mendapatkan waktu tidur yang cukup.

 

Terlihat Lemas Dan Tidak Bersemangat

Saat bayi merasa mengantuk, mereka akan cenderung lebih malas untuk bergerak. Saat dipanggil, si kecil cenderung tidak memberikan respon. Bila ada tanda-tanda tersebut, bisa jadi si kecil kesayangan mama kurang tidur.

 

Menggosok Kedua Matanya

Hormon pertumbuhan pada bayi cenderung terjadi saat bayi ada pada posisi tidur nyenyaknya. Bayi yang menggosok-gosok matanya sering, mengisyaratkan bahwa mereka merasa mengantuk dan ingin tidur.

 

Tidak Fokus

Saat si kecil dipanggil tidak menyahut dan bahkan tidak menoleh, itu artinya mereka kurang fokus. Fokus yang berkurang tersebut diakibatkan karena mereka kelelahan dan juga mengantuk. Jadi, usahakan agar si kecil tidur yang cukup ya, ma…

 

Terus Menangis dan Tantrum

Bayi yang tidak cukup tidurnya tentu saja akan kelelahan dan berakibat pada rewelnya ia sepanjang hari. Mereka biasanya akan menangis sepanjang hari bahkan mengalami tantrum. Untuk mencegah hal tersebut, mama bisa mengoptimalkan waktu tidur si kecil agar mereka tidak rewel dan tantrum sepanjang hari.

Bayi menangis saat terbangun dari tidurnya adalah sebuah hal yang wajar. Namun ada kala nya mereka akan menangis histeris dan susah untuk ditenangkan. Mama biasanya akan bingung sendiri, apa yang menjadi penyebab mereka menangis histeris saat tidak sengaja terbangun di malam hari? Berikut adalah beberapa kemungkinannya.

  • Separation Anxiety atau Kecemasan saat Berpisah dengan Orang Tua

Dalam kasus ini, bayi biasanya merasakan sebuah rasa takut dan cemas karena saat terbangun mereka tidak dapat melihat orang tua nya mendampingi. Ini adalah hal yang wajar, karena mereka takut tidak dilindungi. Mereka biasanya akan dapat tenang dengan sendirinya, namun membutuhkan waktu yang lumayan lama.

  • New Milestones atau Tahap Perkembangan Baru

Saat bayi ada dalam tahap belajar merangkak, duduk, bahkan berdiri, mereka ada dalam proses perkembangan baru sehingga dapat mempengaruhi siklus atau kualitas tidurnya. Sama seperti orang dewasa, saat mereka lelah, akan ada beberapa anggota tubuh yang pegal, jadi mama bisa menyiasatinya dengan memijat lembut tubuh si kecil sebelum tidur.

  • Siklus Tidur Alamiah

Si kecil biasanya masih ada dalam tahap belajar untuk kembali tertidur saat tidak sengaja terbangun. Saat terbangun, mereka biasanya mengalami kesulitan untuk tidur kembali sendiri, maka mama disarankan untuk menepuk nepuk halus tubuhnya agar mereka kembali tenang dan tertidur dengan sendirinya.

  • Tumbuh Gigi atau Infeksi

Bayi menangis merupakan sebuah tanda atau singkatnya mereka mengkomunikasikan keadaan tidak nyamannya lewat menangis. Saat tumbuh gigi mereka pasti merasakan hal yang kurang nyaman pada gusi nya dan hal tersebut pasti menyebabkan rasa sakit. Selain sakit, mereka bisa juga merasa lapar, maka dari itu mereka terbangun dan menangis untuk mengisyaratkan bahwa mereka sedang merasa lapar.

Mama bisa cek kembali tanda-tanda khusus lainnya yang diberikan oleh si kecil saat mereka menangis. Bila dalam keadaan sakit, ada baiknya mama memeriksakannya ke dokter agar segera mendapat perawatan dan penanganan yang tepat.

0
Need Help? Chat with us