• Tips Ibu Hamil

Pada cuaca yang panas, biang keringat akan mudah menyerang kulit bayi yang sensitif. Biang keringat ini biasanya muncul jadi kelenjar yang berada dibawah pori-pori kulit. Namun karena tersumbat dan tidak menemukan jalan untuk keluar, maka akan muncul bintik-bintik yang disebut biang keringat pada permukaan kulit bayi.

 

Ada beberapa jenis biang keringat. Yang pertama adalah kristalina yaitu bintik yang ada di permukaan kulit berisikan air, namun paling cepat sembuhnya. Kedua, adapula rubra, yaitu saat bintik merah semakin melebar dan rata di permukaan kulit bayi. Pada jenis biang keringat ini, bayi harus segera mendapatkan obat dan penanganan dari dokter. Biasanya akan diberikan obat salep oles yang bisa meredakan biang keringat. Ketiga adalah profunda, yaitu terjadi di tubuh orang dewasa.

 

Mencegah Biang Keringat

Biang keringat sebenarnya bisa dicegah agar tidak menjangkit kulit bayi. Caranya cukup mudah, yaitu memakaikan pakaian nyaman yang menyerap keringat, bahan yang halus, serta nyaman untuk kulit si kecil. Bila cuaca panas, mama juga bisa memakai AC atau kipas angin, namun untuk penggunaan kipas angin, jangan langsung mengarahkannya ke tubuh si bayi karena bisa menyebabkan flu. 

 

Untuk bayi yang sering diajak bepergian menggunakan stroller, ada baiknya alas rutin dibersihkan atau diganti agar tidak menimbulkan jamur dan berakibat pada terinfeksinya kulit sensitif si bayi. Gunakan alas berbahan katun agar saat badan bayi berkeringat, alas stroller juga mampu ikut menyerap keringat berlebih yang keluar dari baju si bayi. Tetapi tetap saja disarankan agar mamamenjaga kebersihan dari si kecil dan mengajak bayi di tempat yang sejuk, agar mereka nyaman dan aman dari serangan biang keringat.

Bayi secara biologis akan tertidur saat ditenangkan, digendong, ataupun diayun-ayunkan oleh orang tuanya. Namun, saat malam hari, bayi akan sering terbangun dengan sendirinya dan cenderung susah untuk tertidur lagi. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa mama terapkan untuk membiasakan si kecil tertidur dengan sendirinya saat terbangun lagi ditengah malam.

  • Bangunkan Si Kecil saat Hendak Meletakkannya ke Ranjang

Ini adalah salah satu cara untuk melatih si kecil tidur dengan mandiri. Saat mereka terbangun, mama bisa mengambilnya dan menggendongnya hingga terlelap. Namun saat si kecil hendak diletakkan diatas tempat tidur, mama bisa menepuk-nepuk badannya agar ia kembali dalam keadaan setengah sadar. Saat mereka ada di keadaan setengah sadar kemudian mama meletakkannya di atas tempat tidur, mereka akan sadar dan mulai belajar bahwa kembali tertidur sendiri di ranjang adalah hal yang aman. Namun, cara ini tidak bisa instan. Mama harus bersabar melatihnya hingga mereka terbiasa.

  • Bedakan Waktu Ngempeng dan Menyusui.

Coba bedakan kebiasaan ini. Saat si kecil dalam keadaan terjaga dan mulai lapar, ajak dia menyusui. Namun saat mereka terlihat lelah dan rewel karena mengantuk ajaklah si kecil berkeliling sambil digendong dan diayun-ayunkan agar lekas tertidur. Hal tersebut melatih mereka agar dapat membedakan waktu menyusui dan waktu untuk tidur. Melatihnya seperti itu juga memudahkan mama untuk membuat si kecil kembali tidur saat malam hari karena mereka tidak harus ditidurkan kembali dengan cara menyusu.

  • Peluk Si Kecil Tanpa Mengayunkannya

Mama bisa mengambil si kecil dari ranjang kemudian memeluknya di dekapan mama. Namun mama tidak perlu mengayunkannya, cukup dengan mengelus halus kepala dan pundaknya agar mereka terbiasa tertidur dengan sendirinya tanpa harus diayun-ayunkan.

  • Ajari Si Kecil Tidur di Ranjangnya Sendiri dan Berikan Sentuhan

Saat si kecil terbangun, mama bisa mengambilnya dari ranjang saat mulai menangis. Tetapi saat tangisannya mereda, letakkan kembali diatas ranjang dan berikan sentuhan sentuhan kecil hingga mereka dapat tertidur kembali dengan sendirinya. Cara ini memang perlu penyesuaian yang cukup lama, namun mama harus bersabar agar si kecil bisa terbiasa tidur tanpa campur tangan orang tuanya.

Makanan sudah diperkenalkan ke bayi rata-rata saat mereka memasuki usia 6 bulan. Salah satu makanan yang digunakan sebagai bahan mpasi yang paling populer adalah buah-buahan, salah satunya apel. Apel mengandung flavonoid yang berperan sebagai antioksidan untuk bayi. Manfaat kesehatan yang dapat diperoleh adalah dapat mengatasi sembelit dan diare, menyembuhkan sakit perut, dan meredakan batuk yang menyebabkan tenggorokan si kecil tidak nyaman. Apabila mama ingin memberikan apel sebagai salah satu makanan pendamping ASI si keci, maka mama harus mencoba beberapa resep dibawah ini.

 

  • Puree Apel

 

Membuat makanan pendamping ASI puree apel ini sangat mudah loh ma… Mama hanya perlu membagi dan mengupas buah apel kira-kira menjadi 5 bagian. Kemudian mama bisa merebus atau mengukus potongan apel tadi hingga apel menjadi lembut. Apel yang sudah direbus atau dikukus tadi diangkat dan diblender hingga halus merata. Puree Apel sudah siap dijasikan.

  • Campuran Apel dan Wortel

Caranya sama dengan membuat puree apel. Jadi, mama hanya perlu mengukus apel dan wortel agar daging buahnya lembut. Setelah lembut, mama bisa mengangkatnya dan memblender apel dan wortel yang sudah lembut tadi hingga mendapatkan tekstur yang merata. 

 

  • Puree Apel Panggang

 

Bagi mama yang gemar menggunakan oven saat memasak, menu ini mungkin sangat mudah untuk dibuat sebagai makanan pendamping ASI si kecil. Mama cukup meletakkan apel yang belum dikupas pada loyang yang sudah ditambahkan sedikit air. Masukkan kedalam oven dengan suhu 400 derajat celcius selama kurang lebih 30 menit. Dinginkan apel yang sudah dioven beberapa saat, kemudian blender sampai halus. Puree apel panggang siap disajikan untuk si kecil. 

Sebagai orang tua, tidak jarang saat membelikan matras untuk tempat tidur si kecil, alasan ekonomis menjadi pertimbangan pertama karena berpikir bahwa si kecil akan cepat bertumbuh besar sehingga matras akan digunakan sebentar saja. Sebenarnya prinsip ini kurang pas, karena pada umur-umur bayi hingga balita, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur demi pertumbuhan dan perkembangan bentuk tubuh dan tulangnya. 

 

Penggunaan matras yang salah menjadi salah satu penyebab SIDS (sudden infant death syndrome) tertinggi. SIDS ini juga sering disebut dengan kematian ranjang bayi karena umumnya terjadi saat bayi sedang tidur. Penyebab utamanya adalah karena matras yang digunakan bayi untuk tidur memiliki permukaan yang tidak rata. Selain itu, matras yang terlalu empuk dan berbulu juga meningkatkan resiko SIDS karena mengganggu saluran pernafasannya. 

 

Untuk mencegah terjadinya SIDS, mama bisa memilih ranjang dan juga matras yang memenuhi standar internasional dan tidak mengandung bahan-bahan yang membahayakan, seperti claire et agnes. Claire et agnes dirancang dengan mengikuti standar Eropa dan menggunakan water-based paint, sehingga sangat aman untuk bayi. Demi kenyamanan tidurnya dan mendukung pertumbuhan tulang belakangnya, mama juga bisa memilihkan matras yang memiliki permukaan rata. Begitupula sprei yang digunakan agar tidak menggelembung dan memiliki ukuran yang sesuai dengan matras di tempat tidur si bayi. 

 

Selain tempat tidur yang nyaman dan aman, aksesoris seperti bantal dan boneka disarankan untuk tidak diletakkan begitu saja diatas tempat tidur bayi. Gunakan aksesoris seperlunya saja agar tidak beresiko menutupi wajah bayi dan pada akhirnya menyebabkan tertutupnya saluran udara pada bayi. Hal tersebut tentu saja meningkatkan risiko SIDS.

Bayi yang hadir ditengah sebuah keluarga merupakan sebuah anugerah yang tak dapat digambarkan. Sebagai orang tua, kita akan selalu berusaha memberikan hal terbaik untuk si kecil agar dia merasa aman dan nyaman. Kendati demikian, kadang ada kalanya mereka lebih rewel dari biasanya dan lebih sering menangis. Si kecil yang menangis terus menerus, selain berkemungkinan sakit, mereka juga mungkin merasa kurang nyaman. Rasa kurang nyaman tersebut bisa saja datang dari cuaca yang terlalu panas, pakaian yang tidak nyaman, suasana yang bising, bahkan selimut yang tidak nyaman untuk digunakan. 

 

Selimut bagi bayi tidak hanya berfungsi sebagai penghangat tubuh, namun juga berfungsi sebagai alas saat bayi bermain di atas lantai agar tidak kotor. Kulit bayi yang sensitif adalah salah satu faktor yang menyebabkan mama harus memperhatikan jenis selimut yang baik diberikan untuk si kecil. Tidak semua jenis dan bahan selimut cocok untuk bayi. Jadi pemilihan selimut baik dari jenis hingga bahannya harus benar-benar diperhatikan. Saat memilih selimut, penting untuk diperhatikan daya tahan dari selimut yang akan dibeli, jangka waktu pemakaian, mudah dibersihkan, bahan-bahan penyusun selimut, warna, ukuran, berat, dan juga fungsi dari selimut yang akan dibeli. Setelah memiliki selimut yang tepat, mama juga tentunya harus memperhatikan kebersihan selimut yang digunakan oleh si kecil. Kebersihan selimut berpengaruh terhadap kesehatan si kecil karena terkadang bayi suka memasukkan selimut ke dalam mulutnya. 

 

Agar tidak salah dalam menentukan jenis selimut mana yang akan diberikan untuk si kecil, ada baiknya mama mengetahui beberapa jenis selimut bayi berikut ini.

  • Selimut Lampin (swaddling blankets)

Selimut ini digunakan untuk menenangkan bayi yang menangis. Bentuknya bervariasi seperti persegi empat, ataupun bentuk yang kerucut. Selimut lampin berbentuk kerucut sengaja dibuat untuk memudahkan mama yang ingin mengganti popok bayi karena hanya tinggal membuka pengait di bagian atas. Saat selesai, selimut lampin ini akan lebih mudah dibentuk dan dikaitkan kembali.

  • Selimut Bedungan (receiving blankets)

Dikatakan sebagai receiving blankets karena selimut jenis ini sering digunakan untuk bayi yang baru saja terlahir. Bila mama menggunakan selimut ini, mama harus memiliki banyak persediaan karena biasanya bayi akan sering mengompol dan mama akan lebih sering untuk mengganti selimut.

  • Selimut Berkepala Hewan (security blankets)

Selimut ini sering dipakai karena desainnya yang lucu. Selimut berbahan halus ini biasanya digunakan untuk menghangatkan tubuh si kecil agar mereka merasakan hangat sepanjang hari. 

  • Matras (baby quilts)

Matras ini bukanlah selimut, namun alas tidur untuk si kecil. Bahannya yang cukup tebal tentunya akan membuat tidur si kecil lebih nyaman dan berkualitas. Untuk bayi, mama bisa pilih matras yang tidak terlalu empuk dan tidak terlalu keras agar tidur si bayi lebih nyaman.

  • Karung Tidur Bayi (sleep sacks)

Sleep sacks ini benar-benar memiliki konsep seperti karung. Seluruh badan bayi kecuali kepala akan dimasukkan kedalam selimut dan tentu saja mereka akan aman dari hal-hal yang berbahaya. 

 

Selain jenis-jenis selimut, mama juga perlu mengenal bahan-bahan yang biasa digunakan dalam selimut bayi.

  • Serat Alami

Selimut yang mama beli bila memiliki tulisan “eco friendly” maka bahan dari selimut tersebut adalah serat alami. Selimut ini biasanya tidak menimbulkan alergi dan aman untuk kulit bayi yang sensitif.

  • Bulu Domba

Selimut dengan bahan bulu domba lebih tahan terhadap noda dan mudah untuk dirawat. Selimut bulu domba terbuat dari 100 persen polyster sehingga lebih cepat kering dan mengisolasi panas. Namun selimut bulu domba tidak disarankan untuk bersentuhan langsung dengan kulit bayi. Gunakan selimut bulu domba ini hanya sebagai pelapis.

  • Flanel

Flanel bisa terbuat dari benang wol ataupun campuran wil dengan serat sintetis dan katun. Selimut berbahan flanel bisa membuat bayi hangat, bahkan panas. Selimut ini biasanya cocok digunakan untuk cuaca yang sangat dingin.

  • Serat Katun

Jenis bahan serat katun ini adalah bahan yang paling umum digunakan untuk selimut bayi. Serat katun ini memiliki sifat bahan yang sangat lembut saat disentuh.

  • Katun

Sama seperti serat katun, katun banyak digunakan untuk membuat selimut bayi. Katun selain halus juga memiliki harga yang relatif murah dibandingkan bahan yang lainnya. Katun juga memiliki daya serap yang tinggi, namun lebih sulit untuk kering.

  • Wol

Wol merupakan bahan yang kasar dan kurang tepat bila digunakan untuk selimut bayi. Gunakan selimut berbahan wol ini untuk melapisi bayi saat tidur di cuaca yang dingin.

  • Sutra

Sutra memang memiliki tekstur yang lembut, namun harganya pun jauh lebih mahal dibandingkan bahan selimut lainnya dan memiliki sifat bahan yang tipis. Maka dari itu sutra tidak disarankan untuk digunakan sebagai selimut bayi.

  • Bulu Sintetis

Bulu sintetis ini terbuat dari 100 persen katun dan sangat lembut. Selimut berbahan sintetis biasa digunakan sebagai alas tidur, pembungkus bayi, ataupun alas bermain. Selimut berbahan bulu sintetis ini meski halus dan aman untuk bayi, namun sulit untuk dibersihkan.

0
Need Help? Chat with us