• Tips Ibu Hamil

Memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk si kecil adalah cita-cita seluruh orang tua. Termasuk memberikan peralatan yang dibutuhkan bayi, sampai ke mainan. Dalam memilih berbagai peralatan yang digunakan untuk si kecil, hendaknya mama harus hati-hati dalam memilih. Berikut ini adalah peralatan yang beresiko membahayakan bayi namun masih sering digunakan:

Baby Walker

Baby walker sering digunakan sebagai alat bantu saat si kecil sudah mulai belajar berjalan. Padahal sejatinya, alat ini justru bisa menunda si kecil untuk belajar mandiri berjalan. Baby walker juga memiliki bahaya loh ma… si kecil biasanya menggapai hal hal yang dekat dengannya saat berjalan dengan baby walker sehingga mereka bisa menyentuh hal hal yang berbahaya seperti pegangan panci, pemanas ruangan, atau bisa menabrak ujung meja yang mengakibatkan luka. Jadi saat si kecil di baby walker, mama harus menaruh perhatian ekstra yaa…

Sleep Positioner

Sleep positioner ini sebenarnya dirancang untuk menjaga posisi tidur bayi. Dibalik kegunaannya untuk ‘menjaga’ ternyata sleep positioner ini meningkatkan resiko bayi meninggal karena lemas dan kurangnya ruang gerak. Sebaiknya, mama meletakkan bantalan yang datar untuk menjaga posisi tidur bayi agar mereka tetap memiliki ruang gerak yang bebas.

Boks Bayi

Sela pada boks bayi biasanya jarang-jarang sehingga mama biasa menambahkan bantalan agar si kecil tidak jatuh dan tersangkut. Padahal sebenarnya bantalan tersebut meningkatkan resiko SIDS karena bila tidak sengaja menutupi wajah bayi, mereka akan kekurangan napas dan menjadi lemas. Selain itu, boks bayi yang terlalu rendah dan cenderung memiliki tinggi yang sama dengan tubuh bayi bisa menyebabkan bayi terjatuh karena lebih mudah keluar dari boks. Walaupun berbahaya, mama bisa tetap menggunakan boks bayi loh, ma… Mama bisa mencoba produk dari Claire et Agnes karena sudah memenuhi standar eropa, sehingga aman dan mencegah resiko bayi terjepit ataupun jatuh dari boks. Desain yang dimiliki pun mewah dan elegan, sehingga mempercantik ruang tidur si kecil.

Baby Carrier

Baby carrier atau gendongan bayi biasanya memudahkan mama saat menggendong si kecil kemana-mana. Gendongan ini pun digunakan hampir oleh seluruh ibu-ibu untuk menggendong si kecil dengan praktis dan mudah. Namun, ada bahayanya loh ma menggunakan baby carrier ini. Bila pengunci-pengunci ujung tidak terikat atau terkunci dengan benar, bisa terjadi resiko bayi terjatuh sehingga sangat berbahaya untuk keselamatan si bayi. Jadi saat menggunakan baby carrier, pastikan setiap ujung pengunci sudah erat agar si kecil aman dan nyaman.

Mainan yang Digantung

Mainan yang digantung memang bisa membantu menenangkan si bayi terutama saat menangis. Mereka akan bermain-main dan mencoba meraih mainan tersebut hingga terhibur. Namun, mama harus hati-hati karena bila mainan tidak sengaja ditarik dan mengenai wajah si bayi, hal tersebut bisa melukainya. Jadi, tetap awasi si kecil saat bermain dengan mainan gantungnya ya maa…

Stroller

Stroller juga bisa menyebabkan bahaya pada bayi karena bila bayi lupa atau tidak dipasangkan dengan pengaman yang erat, bayi bisa terjatuh dari stroller. Selain itu, stroller juga biasa digunakan oleh mama untuk menaruh belanjaannya karena lebih praktis tidak perlu menenteng. Beban yang kurang seimbang juga bisa menyebabkan laju stroller tidak bagus sehingga meningkatkan resiko terjungkal. Faktor terakhir yang membuat stroller dikatakan tidak aman adalah karena bolong nya rem stroller sehingga saat stroller terlepas di jalan yang agak menurun, stroller bisa meluncur jauh sehingga jatuh terguling. Ini akan sangat berbahaya untuk keselamatan si bayi.

Menyusui merupakan salah satu kegiatan terindah yang pernah seorang ibu lakukan untuk anaknya. Menyusui juga terkadang melelahkan yah, bu… posisi berbaring pasti menjadi salah satu andalan untuk ibu saat mulai lelah menyusui. Tetapi apakah ibu pernah mendengar kalau posisi berbaring saat menyusui itu berbahaya? Kenapa ya?

Jadi, berbaring sambil menyusui dikhawatirkan dapat menyebabkan infeksi telinga pada bayi. Mekanisme menghisap pada bayi dikombinasikan dengan postur saat menyusui serta isi cairan spesifik di botol sehingga dapat mengiritasi jaringan lunak pada telinga. Namun pada penelitian lainnya, dikemukakan bahwa belum ada bukti atau fakta yang menunjukkan bahwa menyusu langsung dari payudara sambil berbaring tidak ada hubungannya dengan infeksi telinga pada bayi. Bahkan ada dokter yang menyarankan untuk mencari pendekatan yang terbaik dan ternyaman saat menyusui si kecil, salah satunya adalah dengan berbaring. 

Saat menyusui sambil berbaring, ada baiknya ibu memperhatikan beberapa hal berikut agar dapat menyusui dengan aman:

  • Tidurkan bayi pada tengah-tengah tempat tidur yang cukup besar, jangan di temoat tidur yang sempit
  • Letakkan bantal sebagai penopang punggung bayi agar mereka merasa nyaman saat menyusui
  • Posisikan hidung dan puting ibu dalam keadaan sejajar, dan letakkan lengan diatas kepala bayi.
  • Gulingkan si kecil ke samping ibu dan tarik mendekati tubuh ibu. Biarkan hidungnya mendekat dengan lembut ke puting payudara. Pastikan juga bagi tidak terjepit di payudara bunda dan upayakan posisi senyaman mungkin.

 

Menyusui merupakan hal terindah bagi ibu karena bisa membentuk bonding antara ibu dan anak. Semoga membantu ya, bu… 

Siapa yang tidak gemas melihat bayi yang baru saja terlahir ke dunia? Selain wajah yang menggemaskan, kulit yang halus membuat kita tergoda untuk mengelus bahkan mencium-ciumi bayi tersebut setiap waktu. Mencium bayi merupakan tanda dari kasih sayang, dan hal tersebut dianggap wajar oleh setiap orang. Tetapi apakah kalian tahu kalau mencium bayi yang baru lahir bisa menimbulkan masalah serius?

Mencium bayi bisa menularkan virus tertentu

Bayi yang baru lahir memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna dalam melawan virus. Virus yang dapat ditularkan dan sangat gampang menjangkit tubuh bayi yang masih sangat rentan adalah virus HSV atau virus herpes simplex. Virus ini bisa menginfeksi otak yang kemudian bisa menimbulkan kejang, penurunan penglihatan, pendengaran, hingga disabilitas intelektual. Virus herpes ini ada 2 yaitu HSV-1 (herpes neonatal) yang ditularkan lewat oral dan HSV-2 (herpes genital) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Pada kasus infeksi virus HSV-1, bisa ditemukan gejala seperti luka di sekitar bibir, sehingga ciuman dapat menularkan virus HSV-1 ini dengan sangat mudah. Ada pula kemungkinan yang lebih parah. Bila bayi terkena virus herpes, mereka bisa terkena meningitis yaitu peradangan pada sumsum tulang belakang dan pelindung otak, namun meningitis bukan hanya dicetuskan oleh herpes saja, bisa juga disebabkan oleh influenza, cacar air, ataupun campak. Ketiga virus tersebut juga ditularkan melalui ciuman.

Imunitas pada bayi belum waktunya berkembang

Pada 4 minggu pertamanya terlahir ke dunia, bayi sangat rentan terjangkit virus. Sebagai orangtua, kita mungkin bisa memastikan dengan baik kondisi kesehatan kita sebelum mencium si bayi. Tetapi pada orang lain, kita tidak bisa memastikan dengan baik bagaimana kondisi kesehatan mereka sebelum mencium si bayi. Virus juga memang berkontribusi untuk membangun imunitas tubuh, namun virus tersebut harus bersifat tidak berbahaya seperti yang terkandung dalam vaksin. Jangan pernah berpikir untuk berani membuat bayi anda terpapar virus di usianya yang masih sangat muda, karena bukan malah membangun kekebalan, tetapi anak akan mendapatkan penyakit yang fatal.

Sebagai orangtua, kita memang tidak bisa membatasi orang lain untuk tidak bertemu dan menyentuh anak kita, terutama sanak saudara. Namun, yang perlu diperhatikan adalah pastikan setiap orang yang akan berdekatan atau mencium bayi kita memiliki kondisi yang sehat dan benar-benar bersih.

 

Herpes disebabkan oleh infeksi HSV (Herpes Simplex Virus) yang biasanya dapat menyebabkan luka dan bisul kelamin. Herpes tidak hanya bisa dialami oleh orang dewasa, tetapi juga bisa menginfeksi bayi yang baru lahir. 

Semakin muda usia bayi, maka semakin rentan mereka terhadap virus HSV, terlebih bila mama pernah atau sedang mengalami herpes genital di masa enam minggu terakhir kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, biasanya ibu akan menularkan herpes kepada bayinya saat melahirkan normal. 

Selain ditularkan oleh ibu, herpes juga bisa menular dari cairan flu orang yang terinfeksi herpes. Herpes tidak menutup kemungkinan untuk menyerang bagian puting payudara, dan bila bayi menyusu pada puting yang mengalami herpes, bayi kemungkinan besar akan tertular. 

Bayi yang terkena herpes biasanya memiliki beberapa gejala yang khas seperti lebih rewel dari biasanya, ada bagian kulit yang melepuh, penyakit kuning, atau mudah berdarah bila tergores. Pada kondisi tertentu, bayi juga mungkin mengalami kesulitan bernapas, membiru, mendengkur, pernapasan yang lebih cepat dari biasanya, atau bahkan sesak napas.

Bila bayi mama terkena herpes, maka harus dilakukan penanganan serius karena dibutuhkan diagnosis lebih detail oleh dokter. Biasanya, herpes pada bayi diobati dengan cara memberika obat antivirus ke pembuluh darah bayi. Perawatan ini bisa dilakukan selama beberapa minggu. Bayi bisa diajak untuk menyusui seperti biasa. Mama tidak perlu khawatir atau langsung stop memberikan susu pada si kecil. Pada kondisi puting susu mama yang terkena herpes, maka alternatif yang bisa digunakan adalah pemberian susu formula atau asi perah agar bayi tidak mengalami kontak langsung dengan bagian tubuh yang terkena herpes.

Madu sejak zaman dahulu kala dipercaya sebagai bahan alami yang dapat mengatasi keluhan-keluhan ringan baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Walaupun madu dikatakan bahan alami yang relatif aman, namun mama perlu berhati-hati dan disarankan untuk tidak memberikan madu pada si kecil bila berusia kurang dari 1 tahun ya maa…

 

Alasan dibalik tidak dianjurkannya madu bagi si kecil yang berusia kurang dari 1 tahun adalah karena madu berkemungkinan besar mengandung bakteri clostridium dan bakteri tersebut berbahaya bagi pencernaan si kecil. Clostridium ini mudah berkembang biak pada tempat yang lembab dan kemungkinan besar bisa mengkontaminasi madu. 

 

Madu yang sudah terkontaminasi oleh bakteri clostridium ini akan membahayakan si kecil terutama pada sistem pencernaannya yang masih belum tahan terhadap bakteri tertentu. Clostridium akan melepaskan racun di saluran pencernaan si kecil sehingga beresiko terhadap keracunan (botulisme). Gejala dari keracunan tersebut adalah si kecil yang sering menangis, lemah, lesu, tidak bisa buang air besar, ada gejala sulit menelan, hingga kelumpuhan otot.

 

 Bila dibandingkan dengan sistem pencernaan orang yang sudah dewasa, tentu saja akan sangat berbeda karena pencernaan orang dewasa sudah matang dan bakteri ini tidak akan menyebabkan masalah pencernaan bila dikonsumsi secara baik dan benar. Jadi, mama harus tetap berhati-hati yah dalam memberikan makanan atau minuman pada si kecil yang masih berusia dibawah 1 tahun. Tetap berkonsultasi dengan ahlinya atau dokter agar pemberian nutrisi terhadap bayi mama tetap terpenuhi setiap harinya dengan baik.

0
Need Help? Chat with us